Oleh : Prof Dr. Supadi
Guru Besar UNJ
Ketika berbicara tentang Kurikulum Merdeka, banyak orang langsung membayangkan kebebasan belajar, berkurangnya tekanan ujian, atau metode pembelajaran yang lebih fleksibel. Namun sebenarnya, ada tujuan yang jauh lebih besar di balik perubahan kurikulum ini, yaitu membentuk karakter peserta didik agar siap menghadapi tantangan masa depan.
Di tengah maraknya berbagai persoalan sosial seperti perundungan, penyalahgunaan narkoba, rendahnya disiplin, hingga menurunnya etika di kalangan pelajar, pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus pada pencapaian akademik. Sekolah juga dituntut untuk membentuk pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan memiliki nilai moral yang kuat.
Kurikulum Merdeka hadir dengan pendekatan yang memberikan ruang kepada siswa untuk mengenali dan mengembangkan potensinya masing-masing. Melalui pembelajaran yang lebih fleksibel, siswa tidak hanya didorong untuk memahami materi pelajaran, tetapi juga belajar berpikir kritis, kreatif, mandiri, dan mampu bekerja sama dengan orang lain. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, pendekatan ini menjadi sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada materi yang diajarkan di kelas. Guru memiliki peran strategis sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian yang ditunjukkan guru akan lebih mudah ditiru oleh peserta didik dibandingkan sekadar nasihat atau teori.
Selain itu, pendidikan karakter perlu menjadi budaya sekolah. Kegiatan seperti salat berjamaah, gotong royong, menjaga kebersihan lingkungan, program literasi, hingga aktivitas organisasi siswa dapat menjadi sarana efektif untuk melatih kebiasaan positif. Karakter yang kuat tidak terbentuk dalam satu atau dua kali kegiatan, melainkan melalui proses pembiasaan yang berlangsung terus-menerus.
Kurikulum Merdeka juga memperkuat pendidikan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila yang terdiri atas enam dimensi utama, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Keenam dimensi tersebut menjadi panduan bagi sekolah dalam merancang berbagai kegiatan pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk kepribadian siswa.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai rapor atau prestasi akademik. Generasi yang dibutuhkan Indonesia adalah generasi yang cerdas sekaligus berkarakter. Kurikulum Merdeka menawarkan peluang besar untuk mewujudkan hal tersebut melalui pembelajaran yang lebih manusiawi, relevan, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Jika diterapkan secara konsisten oleh sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat, Kurikulum Merdeka dapat menjadi fondasi penting dalam melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki moral, etika, dan akhlak yang baik sebagai bekal membangun masa depan bangsa.
Sumber
Asian Journal of Healthy and Science
Google Scholar
